Bab Satu Chapter 01 illustration
Bab Satu

Chapter 01 - Entangled

Chapters

Lampu neon itu berdengung di frekuensi yang sudah dua puluh tahun tidak ia dengar.

Hal pertama yang menyisir telinganya. Bukan bau ruangan yang gelap dengan iringan lirih dari jendela kecil, bukan kerasnya kursi yang berderit seperti seorang tua renta, bukan udara lembap yang membasuh kulitnya seperti pelukis yang menggoreskan kuas yang terlalu banyak cat. Hanya dengung neon. Nada tertentu. Jenis yang merayap di balik mata dan bersarang di sana, hampir-hampir seakan dia bisa melihat suara tersebut menari-nari di depannya. Ia kenal suara ini. Ia sudah lupa suara ini.

Tangannya memegang pulpen. Tinta biru. Genggamannya salah. Jari-jarinya masih terlalu pendek untuk pulpen yang terlalu panjang, dan ia menggenggam seperti bayi menggenggam sendok ketika belajar makan, dengan seluruh kepalan dan bukan ujung jari. Ia menatap tangan itu. Tangannya. Kulit coklat muda, belum ada bekas luka, tidak ada garis parut di jari telunjuk dari bekas solder, tidak ada kapalan di jari tengah dari bertahun-tahun menulis sesuatu yang sudah tidak penting lagi.

Seseorang sedang berbicara.

Pak Henry. Matematika. Suaranya datang lebih awal sebelum ingatan tentangnya menyapa Elian, seperti mendengar lagu pembuka dari kartun yang selalu kau tonton di pagi hari sebelum sekolah. Pak Henry yang berbau rokok kretek dan debu kapur dan akan pensiun empat tahun lagi dengan perpisahan yang tidak dihadiri siapa pun kecuali wakil kepala sekolah dan dua murid yang datang demi makanan gratis. Elian tahu ini. Ia tahu ini seperti kau tahu bait terakhir dari lagu yang sudah sering terngiang di kepalamu — bukan karena ada yang memberitahu, tapi karena telinga dan lidahmu sudah pernah mendengar dan melantunkannya.

Ia mendongak.

Papan tulis. Retak di pojok kiri bawah, garis patahannya menyilang diagonal menuju tengah seperti sungai yang menemukan jalannya sendiri. Ia kenal retakan itu. Ia tahu bahwa menjelang Oktober seseorang akan melapisinya dengan selotip kertas yang menguning di bulan Desember. Ia tahu persamaan di papan itu salah. Bukan salah seperti cara murid berpikir itu salah, tapi salah seperti cara seorang laki-laki yang menghabiskan sebelas tahun di laboratorium fisika tahu bahwa ada dua langkah yang selalu dilewati Pak Henry karena beliau sendiri tidak pernah benar-benar paham.

Tiga puluh dua murid. Ia tidak perlu menghitung. Ia ingat.

Dan dua baris ke depan, sedikit ke kiri, bagian belakang sebuah kepala.

Untaian rambut yang terurai seperti air terjun yang melewati bebatuan. Bergelombang dan sedikit berantakan. Sungai yang menyasak ke sana kemari. Dia duduk seperti biasa. Satu siku di meja, dagu hampir bertumpu di telapak tangan tapi tidak jadi, seperti seseorang yang terus-menerus hendak bertanya tapi memutuskan untuk tidak jadi di detik terakhir.

Ia tahu semua ini. Ia tahu semuanya tentang gadis itu kecuali satu hal yang seharusnya paling mudah diingat. Namanya. Ia meraih nama itu di kepalanya seperti tangan yang mencari saklar lampu di kamar gelap yang seharusnya ia hafal tata letaknya. Tapi saklarnya tidak di sana. Atau dindingnya sudah bergeser.

Ia tahu cara gadis itu menitik huruf i-nya. Bukan di atas huruf tapi sedikit ke kanan, seakan tulisan tangannya sendiri terburu-buru, tidak tahu apakh titik itu bagian dari huruf “i” atau bagian dari huruf selanjutnya. Ia tahu bahwa tujuh menit lagi dia akan mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan yang tidak berani dijawab siapa pun, dan suaranya akan membawa keyakinan khas seseorang yang belum tahu bahwa dunia akan menghabiskan bertahun-tahun berusaha mengikisnya. Ia tahu bekal makan siangnya. Nasi dan telur balado, sambalnya terlalu merah, tutup tupperware yang tidak pernah rapat sehingga tasnya selalu berbau samar cabai menjelang jam ketiga.

Ia mengenalnya seperti cahaya bintang mengenal benda yang sudah pernah ditembusnya. Lima menit lalu. Delapan menit lalu. Atau 950 tahun yang lalu.

Dan semua ini tidak mungkin.

Jantungnya. Jantung yang berusia tiga belas tahun ini, dengan dindingnya yang masih tipis dan ritme yang terlalu cepat. Berdegup dengan cara yang terasa berbahaya secara medis. Bukan karena takut. Karena volume. Seperti jantung yang dipaksa untuk menampung darah dari dua orang. Samudra yang dipaksa kembali masuk ke dalam sungai.

Kelas berlanjut. Pak Henry bertanya. Anak laki-laki bernama Erza menjawab salah. Kelas tertawa. Bukan menertawakan, tapi tertawa bersamanya, karena Erza adalah tipe anak yang mengubah kegagalannya jadi pertunjukan dan semua orang menyukainya karena itu. Erza yang akan pindah ke Surabaya di umur enam belas dan kehilangan kontak dengan semua orang dan muncul kembali di umur dua puluh tujuh di LinkedIn dengan foto profil memakai helm proyek, tersenyum seperti laki-laki yang sudah menemukan tepat satu hal dan puas dengan itu.

Elian memejamkan mata.

Gelap di balik kelopak matanya adalah gelap yang sama. Tidak ada bedanya antara tiga belas dan tiga puluh tiga dalam kegelapan. Dengungnya tetap ada. Detak jantungnya tetap ada. Bau ruangan dengan serbuk kapur dan keringat khas gedung yang dibersihkan setiap hari tapi tidak pernah cukup bersih. Menekan wajahnya seperti ingatan orang lain yang ditempelkan terlalu dekat.

Ia membuka mata. Masih di sini.

Dia menoleh.

Bukan ke gadis dengan rambut air terjun tadi. Ke arah gadis di sebelahnya. Nadia, ia ingat sekarang, Nadia yang akan jadi dokter gigi dan menikah muda dan memposting foto anak-anaknya setiap Minggu dengan caption yang selalu sedikit terlalu panjang. Gadis tersebut menoleh untuk membisikkan sesuatu ke Nadia dan dalam gerakan menoleh itu profil wajahnya muncul selama tepat satu tarikan napas. Garis dari dahi ke batang hidung. Bibir bawah yang lebih penuh dari yang atas dengan selisih yang seharusnya tidak penting tapi sudah menempati terpatri permanen di ingatannya.

Dia menoleh kembali. Air terjun itu sejenak terbawa angin yang lembut, berubah menjadi ombak yang tenang, yang sedikit menyapu pandangan Elian seperti pantai tanpa tebing. Tanpa ikan. Tanpa koral.

Ia tidak bernapas.

Ia menyadari ini dan menghirup. Terlalu tajam, terlalu keras. Dan anak laki-laki di sebelahnya menoleh. Fikri. Pendiam, mudah dilupakan dengan cara orang-orang baik mudah dilupakan. Fikri menatapnya dengan rasa ingin tahu yang ringan dan Elian menyusun wajahnya menjadi sesuatu yang berarti bukan apa-apa, aku baik-baik saja dan Fikri menerimanya karena anak tiga belas tahun tidak menginterogasi keheningan satu sama lain. Belum. Itu datang nanti, ketika diam mulai terlihat seperti ketidakpedulian, ketika orang-orang mulai menjadikannya segala sesuatu menjadi urusan pribadi yang masih saja, dibagikan di media sosial dengan setelah publik.

Bel akan berbunyi sebelas menit lagi. Ia tahu ini. Bel akan berbunyi dan kelas akan meledak ke dalam kekacauan spesifik masa remaja. Kursi berderit, tas disambar, suara-suara berlomba menjadi yang paling keras di koridor. Gadis itu akan berdiri dan berjalan keluar bersama Nadia dan ia akan melihatnya melewati mejanya tanpa memandangnya karena tidak ada alasan untuk memandangnya. Mereka belum saling kenal. Di garis waktunya, ia bukan siapa-siapa. Anak laki-laki tiga baris di belakang yang tidak mengucapkan satu kata pun sepanjang pelajaran.

Ia belum mengerti ini. Kenapa ia di sini, bagaimana ia di sini, apa arti di sini ketika tubuhnya tiga belas tahun tapi pikirannya menanggung beban laki-laki yang sudah gagal di semua hal yang penting. Pertanyaan-pertanyaan itu ada tapi mereka seperti kerikil di bawah air, teredam, tak bergeming. Satu-satunya yang membuat gemercik di air tersebut adalah gadis tersebut. Bagian belakang kepalanya, rambutnya menyapa air yang tenang di hati Elian, dan membuat riak air di kolam yang kecil.

Pak Henry mengatakan sesuatu tentang PR. Halaman empat puluh dua sampai empat puluh lima. Elian tidak mencatat. Ia sudah tahu jawabannya. Ia sudah tahu pertanyaannya. Ia sudah tahu bahwa hari Kamis Pak Henry akan mengumpulkan tugas dan menghilangkan tiga di antaranya dan menyalahkan murid-muridnya dan tidak akan ada yang membantah karena kau tidak membantah guru, bukan di sini, bukan di sekolah ini di mana rasa hormat adalah sebuah bangunan tanpa pintu dan kau tinggal di dalamnya mau atau tidak mau.

Tujuh menit berlalu. Dia mengangkat tangan.

“Tiga perempat,” katanya. Suaranya seperti yang ia ingat. Tidak keras, tapi hadir. Jenis suara yang tidak butuh volume karena punya bobot. Pak Henry mengangguk. Dia menurunkan tangan. Rambutnya kembali tenang.

Elian menulis di bukunya. Bukan PR. Bukan persamaan. Ia menulis:

Dia menjawab sebelum orang lain. Dia selalu begitu.

Ia menatap kalimat itu. Tulisan tangannya masih tulisan anak-anak. Bulat, goyah, menekan terlalu keras. Tapi kalimat itu bukan kalimat anak-anak. Itu adalah pengamatan dari seorang laki-laki yang menghabiskan dua dekade mengatalogkan seseorang tanpa izin, tanpa alasan, tanpa tahu mengapa datanya penting sampai data itu menjadi satu-satunya yang tersisa.

Ia mencoretnya. Menekan pulpen cukup keras hingga kertasnya sedikit robek.

Bel berbunyi.

Kelas kosong persis seperti yang ia tahu akan terjadi. Kekacauan, deritan, suara-suara. Gadis itu berdiri. Dia berjalan melewatinya bersama Nadia. Dia tidak memandang. Tidak ada alasan untuk memandang. Belum.

Elian tetap duduk.

Ruangan menyepi di sekelilingnya sampai yang tersisa hanya dengung lampu dan debu kapur mengendap di udara dan bau samar cabai dari tempat dia tadi duduk. Ia menatap papan tulis yang retak. Persamaannya masih salah. Ia bisa memperbaikinya. Ia bisa berjalan ke papan dan menulis ulang dengan benar dan Pak Henry tidak akan mengerti dan kelas tidak akan peduli dan tidak ada yang berubah karena kesalahan persamaan itu bukan kesalahan yang penting.

Ia mengemasi tasnya. Pelan. Seperti cara orang tua mengemasi tas. Memeriksa kantong, menyesuaikan tali, sedikit menunda momen berangkat karena berangkat berarti melakukan hal berikutnya. Dan hal berikutnya membutuhkan diri yang belum ia susun.

Koridor terang dan berisik dan berbau mie instan dari kantin. Murid-murid bergerak di sekelilingnya dalam arus. Ia seperti batu yang menggelinding di antara bebatuan lain di sungai. Tak ada yang menyadarinya.

Ia menemukan bangku di belakang sekolah, dekat dinding di mana cat mengelupas dalam garis-garis dan tukang kebun menyimpan sapu yang sudah bersandar di tempat yang sama begitu lama sampai meninggalkan bekas. Ia duduk. Ia meletakkan tasnya di pangkuan dan memegangnya seperti sesuatu yang mungkin pergi kalau dilepas.

Langit di atas Jakarta berwarna seperti biasa. Bukan biru, bukan abu-abu, tapi putih-kotor khas kota yang menghirup kembali asapnya sendiri. Ia sudah lupa langit ini. Ia menghabiskan bertahun-tahun di bawah langit lain, langit yang lebih bersih, langit yang rasanya tidak seperti apa-apa. Tapi entah mengapa langit ini rasanya seperti rumah dan bersarang di lidahnya seperti kata yang tidak bisa diucapkan.

Seekor burung melintasi pandangannya. Kecil, gelap, bergerak cepat. Hilang.

Ia berpikir: Aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Ia berpikir: Aku tahu apa yang terjadi setelah itu.

Ia berpikir: Aku tahu bagaimana ini berakhir. Dan kalimat itu datang dengan rasa yang aneh di lidahnya. Bukan rasa baru. Rasa yang sudah aus. Seperti kata yang kau ucapkan terlalu sering sampai bunyinya kehilangan makna dan yang tersisa hanya gerakan mulut yang kosong. Ia tidak tahu mengapa pikirannya sendiri terasa seperti rekaman yang sudah diputar sampai pitanya menipis.

Dan kemudian, di bawah semuanya, lebih pelan dari dengung lampu, lebih pelan dari burung, lebih pelan dari suara koridor yang sudah melebur ke dalam ritme kehidupan yang kembali berjalan tanpa persetujuannya:

Aku lebih kenal belakang kepalanya daripada wajahku sendiri.

Ia duduk dengan itu. Tidak mengerti. Tidak berusaha mengerti. Hanya menahan beban tahu terlalu banyak di tubuh yang belum tahu apa-apa, di bawah langit biru yang tertutup abu, yang rasanya seperti halaman pertama dari sesuatu yang sudah pernah ia baca.

Continue Reading