Chapter 02 - Deafening
Chapters
Angkot itu berbau bensin dan cengkeh dan sesuatu yang manis yang tidak bisa ia lacak asalnya.
Elian duduk di bangku belakang, lutut terlalu tinggi untuk ruang kaki yang tersedia, meskipun lututnya adalah lutut anak tiga belas tahun dan seharusnya muat. Seharusnya. Tubuh ini terus-menerus menjadi kejutan kecil. Seperti memakai baju orang lain yang kebetulan pas tapi lipatan dan jahitannya salah di semua tempat yang penting. Tasnya di pangkuan. Jendela terbuka dan Jakarta memasukkan dirinya tanpa izin.
Ia mengenal kota ini.
Ia mengenal kota ini seperti lidah mengenal gigi yang hilang. Setiap belokan membawa dua gambar sekaligus: yang ada dan yang ia ingat. Keduanya menumpuk, transparan, tidak pernah tepat berhimpit. Seperti melihat melalui dua lensa yang saling bergeser. Persimpangan Jalan Cideng masih punya warung bakso yang pintunya selalu setengah terbuka, yang di ingatannya sudah berganti menjadi minimarket dengan lampu putih yang memantul di lantai keramik. Gang kecil di belakang masjid masih sempit dan becek, tapi pohon beringin di ujungnya lebih kecil dari yang ia ingat. Atau lebih besar. Ia tidak yakin lagi mana yang datang pertama, pohon yang ia lihat sekarang atau pohon yang tumbuh di ingatannya selama dua puluh tahun sampai akarnya menembus fondasi memori dan mengubah bentuknya sendiri.
Kota ini bergerak di sekelilingnya dengan kecepatan yang dulu terasa normal dan sekarang terasa seperti mengulang adegan yang sudah dihafalkan. Motor memotong dari kiri. Penjual koran berdiri di pembatas jalan, koran-koran mengipas di tangannya seperti sayap burung yang tidak pernah terbang. Jikapun bisa terbang, apa yang akan dilihat burung kecil yang paru-parunya sudah penuh dengan asap kendaraan bermotor? Seorang ibu menggendong anak sambil menyeberang dengan kesabaran spesifik perempuan Jakarta.
Angkot berbelok ke Jalan Percetakan.
Dan warung Mang Eko tidak ada.
Ia tahu tempatnya. Di antara tukang fotokopi dan toko kain yang sudah tutup sejak ia bisa ingat. Di sana Mang Eko menjual mie ayam dengan kuah yang terlalu berminyak dan pangsit yang digoreng terlalu lama, dan setiap sore pulang sekolah uap dari kuahnya menyebar sampai ke trotoar bergulat dengan asap rokok dan polusi, seperti tanda bahwa kau sudah hampir sampai rumah. Di situ sekarang berdiri toko reparasi ponsel. Etalasenya penuh layar retak dan kabel berantakan dan tulisan tangan di karton yang bilang SERVIS CEPAT MURAH. Tokonya bukan toko baru. Cat dindingnya sudah mengelupas. Teralis jendelanya sudah berkarat. Toko ini sudah ada di sini untuk waktu yang tidak sebentar.
Tapi Mang Eko ada di sini. Seharusnya. Ia ingat kuahnya. Ia ingat uapnya. Ia ingat suara wajan dan suara Mang Eko memanggil “Nambah, Dek?” dengan nada yang selalu persis sama, seperti rekaman yang diputar ulang.
Mungkin ingatannya salah. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah kuah mie menjadi mitos dan toko reparasi menjadi hantu yang belum pernah ada. Otak melakukan ini. Ia tahu otak melakukan ini. Rekonstruksi, substitusi, menambal lubang-lubang di memori yang terpakai waktu.
Tapi tubuhnya tidak setuju. Tubuhnya ingat berdiri di depan warung itu, bukan sekali, bukan dari satu arah. Dari kiri, sore hari, matahari di belakang. Dari kanan, pagi, dengan tas sekolah yang berbeda, yang lebih berat, yang talinya menekan bahu yang lebih sempit. Berapa kali ia melewati warung ini? Jumlahnya kabur, seperti angka yang dihapus dan ditulis ulang berkali-kali di atas kertas yang sama sampai kertasnya bolong.
Ia adalah fisikawan. Atau pernah. Atau akan menjadi. Dan satu hal yang ia tahu tentang pengukuran: instrumen yang rusak akan memberikan pembacaan yang salah dengan keyakinan yang penuh. Seperti kaleng kue hari raya milik Schrodinger, apakah isinya benang jahit atau benar kue kering. Tidak ada yang yakin. Atau malah memang terlalu yakin?
Ia berpaling dari jendela.
Rumahnya tidak berubah.
Tidak benar. Rumahnya belum berubah. Belum ditambah kanopi besi yang akan dipasang ibunya tiga tahun lagi setelah musim hujan membuat langit-langit teras bocor untuk ketiga kalinya. Belum ada pagar baru yang akan dicat hijau tua oleh tetangga sebelah yang menawarkan diri membantu tapi menggunakan cat sisa yang warnanya tidak cocok dengan apa pun. Bagian rumah itu memang penuh dengan anakronistik. Belang cat di dinding, belang warna pagar, dan juga belang perasaan yang baru dan usang. Tercampur menjadi satu tapi tidak pernah menyatu, seperti dua lautan yang tidak pernah saling bertemu. Belum ada retakan di dinding samping yang akan ibunya abaikan selama enam tahun sampai retakan itu menjadi bagian dari rumah, bukan kerusakan tapi karakter.
Pintu terbuka sebelum ia mengetuk.
Ibunya berdiri di sana dan Elian berhenti bernapas untuk kedua kalinya hari ini.
Dia muda. Tentu saja dia muda. Dia tiga belas tahun lebih muda dari ibu yang ia kubur di memorinya, ibu yang rambutnya sudah dibasuh warna perak, dan tangannya sudah bergetar samar saat mengangkat panci dan punggungnya sudah sedikit membungkuk karena bertahun-tahun membungkuk di atas kompor dan cucian, punggung yang membawa doa dan kekhawatiran yang tidak pernah ia ucapkan. Ibu yang di hadapannya sekarang belum menanggung semua itu. Rambutnya masih hitam seluruhnya. Tangannya masih teguh. Matanya masih punya cahaya tertentu yang ia tidak pernah sadari ada sampai cahaya itu menghilang, pelan, seperti senja yang kau abaikan sampai langitnya sudah gelap dan kau bertanya-tanya kapan malam datang, kepada bintang yang bahkan masih malu menampakan gemerlapnya.
“Sudah makan?”
Dua kata. Bahasa cinta yang spesifik untuk perempuan yang belajar mencintai dari perempuan lain yang juga tidak pernah diajarkan kata-kata yang lebih panjang. Bukan apa kabarmu atau bagaimana sekolahmu atau aku merindukanmu sejak pagi. Hanya: sudah makan. Dan di dalamnya, terlipat kecil-kecil seperti kertas origami yang tidak pernah dibuka sampai akhir, seluruh kekhawatiran seorang ibu yang membesarkan anak laki-laki sendirian di kota yang tidak pernah cukup ramah dan tidak pernah cukup kejam untuk membuatnya pergi.
“Belum,” kata Elian. Dan ia ingin mengatakan lebih. Ia ingin mengatakan: Aku melihatmu. Aku melihat apa yang sudah kau lakukan. Aku melihat tahun-tahun yang akan datang dan aku tahu berapa banyak yang akan kau tanggung dan aku tidak pernah mengatakannya, tidak pernah sekali pun, dan kau menerimanya karena kau menerima segalanya karena cinta di rumah ini berbentuk seperti ketahanan dan ketahanan berbentuk seperti diam, bahkan saat gemuruh.
Yang keluar: “Belum.”
Ibunya mengangguk dan masuk ke dapur dan suara kompor menyala memenuhi lorong kecil yang menghubungkan pintu depan ke ruang keluarga. Langkahnya sama. Persis sama dengan langkah yang ia ingat dari setiap malam di rumah ini, ritme yang konstan, sol sandal menyentuh ubin dengan interval yang bisa ia hitung, yang bisa ia jadikan metronom, yang bisa ia gunakan untuk mengukur waktu lebih akurat dari jam di dinding ruang tamu yang selalu terlambat tiga menit dan tidak pernah diperbaiki siapa pun.
Ia menaruh tasnya di kursi. Kursi kayu, bantalan tipis berwarna merah marun yang sudah pudar di bagian tengah. Ia duduk di ruang tamu yang kecil dan mendengarkan ibunya memasak dan ini adalah suara yang paling keras yang pernah ia dengar.
Bukan karena volume. Karena apa yang tidak dikatakan di antaranya.
Ayahnya meninggal ketika ia berusia sebelas tahun.
Ia berdiri di pemakaman dan tidak menangis. Bukan karena tidak merasakan duka. Tapi karena perasaannya terlalu besar untuk pintu keluar yang tersedia. Seperti mencoba mengeluarkan seluruh air laut melalui mulut teko kecil yang sudah berkarat. Ia berdiri dan ibunya memegang tangannya dan tangan ibunya teguh, tidak bergetar, dan ibunya juga tidak menangis. Dan di momen itu ia belajar sesuatu yang akan membentuk seluruh hidupnya: bahwa cinta terlihat seperti ketahanan, dan ketahanan tidak bersembunyi di balik kata-kata.
Di momen itu, jalur yang menghubungkan hatinya ke mulutnya menjadi terlalu sempit, terlalu padat, terlalu penuh. Dan tidak pernah lebar kembali.
Gadis itu bukan yang pertama menerima keheningannya. Ibunya yang pertama. Ibunya yang menerima setiap jawaban pendek, setiap anggukan yang menggantikan kalimat, setiap ruang kosong di antara mereka yang bisa diisi dengan sesuatu yang hangat tapi dibiarkan kosong karena keduanya tahu cara hidup di ruang kosong lebih baik daripada cara mengisinya. Keheningannya bukan situasional. Bukan karena gadis itu, bukan karena cinta yang tidak tersampaikan, bukan karena kegagalan tertentu di momen tertentu. Keheningannya adalah konstitusional. Sudah ada sebelum gadis itu duduk dua baris ke depan. Sudah ada sebelum ia tahu apa artinya gagal berbicara. Keheningan ini diturunkan seperti golongan darah, diam-diam, mengalir dari denyut nadi pertama hingga nafas yang terakhir.
Malam. Kamarnya.
Langit-langit putih dengan bekas air di pojok yang berbentuk seperti peta dari negara yang tidak pernah ada. Kipas angin berputar. Ia berbaring di kasur yang terlalu pendek atau ia yang terlalu panjang dan ia tidak bisa memutuskan mana yang benar karena tidak ada yang benar tentang tubuh ini. Pikiran tiga puluh tiga tahun di tulang yang masih tumbuh.
Suara azan magrib sudah lewat. Isya sudah lewat. Rumah sunyi. Dari balik dinding ia mendengar ibunya melangkah ke bilik kecil. Tempat yang paling bersih di antara lorong yang berdebu. Dengan tumpukan buku dan sajadah yang berwarna usang. Akan tetapi selalu saja tercium aroma melati setiap kali dahi ini menyentuh ke tanah.
Ia berbaring dan menatap langit-langit dan kipas berputar dan dengungannya menemaninya seperti suara neon di kelas tadi pagi. Dua dengung berbeda dari dua tempat berbeda yang entah mengapa terasa seperti nada yang sama.
Dan kemudian, sesuatu bergeser.
Bukan di kamar. Di kepalanya. Atau di belakang kepalanya, di tempat yang lebih dalam dari ingatan, di tempat yang lebih tua dari pikiran. Langit-langit yang sama. Bekas air di pojok, peta dari negara yang tidak ada. Kipas yang sama. Tapi ritmenya salah. Bukan berputar tiga kali per detik tapi lebih lambat, seperti kipas yang sudah terlalu lama bekerja. Dan ia yakin, selama setengah tarikan napas, bahwa ia pernah berbaring di tempat tidur ini sebelumnya, bukan sebagai anak-anak, tapi sebagai seseorang yang memandang ke bawah kepada anak itu. Seseorang yang sudah melihat langit-langit ini dari sudut yang persis sama, di waktu yang berbeda, di malam yang memiliki tekstur yang sama tapi suhu yang sedikit lain. Dan suara kipas itu. Ia mengenalnya. Bukan suara berdecit ketika sayap kipas sedikit bergeser dan menyentuh motornya. Suara yang lain. Frekuensi yang berbeda. Detail yang begitu kecil, begitu tidak penting, tapi ia menyadarinya dengan keyakinan yang tidak masuk akal, seperti mengenali bahwa butir garam di piringmu berasal dari laut yang berbeda.
Setengah tarikan napas. Lalu hilang. Seperti ikan yang kehabisan nafas, naik untuk menyentuh permukaan air dan menghilang kembali ke kedalaman sebelum kau sempat melihat bentuknya.
Ia kembali menjadi anak tiga belas tahun yang berbaring di kamar kecil di Jakarta dengan ibunya berdoa di ruangan sebelah dan kipas yang berputar di kecepatan yang benar dan langit-langit yang tidak berubah dan tidak pernah berubah. Dunia kembali normal. Atau apa yang ia pikir adalah normal. Garis antara keduanya semakin tipis dan ia belum tahu ini, belum menyadari bahwa “normal” adalah kata yang hanya berarti sesuatu selama kau tidak memiliki pembanding.
Di ruang sebelah, ibunya menyelesaikan doanya. Langkah kembali. Sol sandal di ubin. Ritme yang konstan, yang terukur, yang tidak berubah.
Di kamarnya, Elian menutup mata dan mendengar dua suara sekaligus: ibunya yang ada dan ibunya yang akan ada. Keduanya sama. Keduanya berbeda. Dan jarak di antara keduanya adalah dua puluh tahun yang belum terjadi, terkompresi menjadi satu malam di kamar yang terlalu kecil untuk satu orang dan terlalu besar untuk keheningan yang menghuni setiap sudutnya.
Ia tidak tidur untuk waktu yang lama.
Dan ketika akhirnya tidur datang, ia tidak bermimpi. Atau dia lupa dengan mimpinya.
Continue Reading