Chapter 03 - Cursed
Chapters
Pagi itu. Sekolah berbau hujan yang lelah menari di antara asap malam yang tersembunyi, dan mulai menghamparkan dirinya di atas tanah yang tercampur sisa-sisa sampah. Dan bukan hanya bau hujan yang beristirahat. Juga bau yang tiba-tiba membuka hati dan merebah di dalamnya.
Bukan bau yang keras. Bukan bau yang memaksa masuk seperti asap knalpot angkot atau minyak goreng yang sudah dipakai dua puluh kali di kantin. Ini bau yang lembut. Samar. Jenis bau yang hanya bisa kau cium kalau kau sudah terlalu sering menciumnya, sampai hidungmu belajar mencarinya tanpa diminta, seperti bau yang bisa kau lihat dengan mata, berwarna-warni dan menari dengan lembut, di antara debu yang tersentuh cahaya. Ia tidak memberinya nama. Ia tidak ingin memberinya nama. Hanya membiarkannya ada, tercampur dengan bau tas kanvas dan buku tulis baru dan keringat pagi anak-anak yang berlari dari angkot ke gerbang sebelum bel berbunyi.
Elian berdiri di koridor barat.
Ia tidak pernah melewati koridor barat. Koridor barat adalah lorong panjang dengan jendela-jendela tinggi yang tidak pernah ditutup dan langit-langitnya lebih rendah dari koridor utama dan lampu-lampunya setengahnya mati karena tidak ada yang melapor dan tidak ada yang peduli. Koridor barat membawa kau ke ruang seni yang tidak pernah dipakai dan toilet laki-laki yang kerannya bocor sejak tahun ajaran lalu dan tangga belakang yang keluar ke lapangan dari arah yang salah.
Koridor yang seharusnya terasa sesak. Karena debu. Karena bekas jejak kaki. Karena tirai merah maroon yang sudah menghitam. Dan karena cahaya pun enggan untuk melewatinya. Entah kenapa terasa lapang untuk Elian.
Tiga hari sejak ia terbangun di kelas dengan pikiran seorang laki-laki dewasa di dalam tubuh anak-anak. Penuh dengan beban pikiran yang seharusnya tidak muat di dalam tengkorak yang kecil ini. Tiga hari sejak ia melihat belakang kepala gadis itu, di setiap lekukan rambutnya seperti ada air yang jatuh. Air yang membawa aroma melati, tercampur dengan sandalwood. Air yang mengalir seperti sungai, dan melewati akar vetiver yang terbenam dengan pasir. Tiga malam tidak tidur, atau tidur dalam potongan pendek. Seperti cerita bersambung yang tidak memiliki akhir yang jelas. Bahkan awal ceritanya pun terasa samar.
Di malam pertama, ia berbaring dan langit-langit berputar bersama kipas dan ia mencium sesuatu yang belum terjadi. Bau koridor yang bukan koridor sekolah. Lebih dingin. Lebih tajam. Antiseptik dan plastik dan udara yang disaring mesin. Dan di antara semua itu, bunga yang sudah layu di vas yang airnya tidak pernah diganti. Ia tidak tahu koridor itu milik siapa. Ia tidak tahu siapa yang terbaring di ujungnya. Tapi tubuhnya tahu. Tubuhnya ingat cara kakinya berhenti di depan pintu yang tidak berani ia buka, dan cara mulutnya menyimpan kalimat yang sudah terlambat dua puluh tahun untuk diucapkan.
Di malam kedua, bau itu datang lagi. Kali ini lebih dekat. Bukan koridor. Ruangan. Kecil. Tirai yang ditarik separuh. Dan ia duduk di kursi plastik dengan tangan di pangkuan dan tidak mengatakan apa-apa, karena tidak pernah mengatakan apa-apa, karena jalur dari hatinya ke mulutnya sudah menyempit sejak pemakaman ayahnya dan tidak pernah lebar kembali dan sekarang ia duduk di kursi itu dan menyadari bahwa keheningannya bukan hanya miliknya. Keheningannya mengenai orang lain. Keheningannya memakan korban.
Dan di suatu titik di antara malam kedua dan pagi ketiga, keputusan itu datang. Bukan seperti kilat. Bukan seperti wahyu. Seperti bau yang perlahan menguat sampai kau tidak bisa berpura-pura lagi bahwa kau tidak menciumnya.
Ia akan menghindari gadis itu.
Kalimatnya sederhana. Logikanya sederhana. Kalau variabelnya disingkirkan, hasilnya berubah. Ini bukan fisika tingkat tinggi. Ini bahkan bukan fisika. Ini aritmatika dasar. Kurangi satu elemen, dan persamaannya menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang bisa ditanggung. Sesuatu yang tidak berakhir dengan cara yang sudah ia ketahui, dengan rincian yang sudah tertulis di ingatannya seperti catatan kaki di jurnal yang tidak ingin ia baca ulang.
Jika aku mengalihkan mataku ke bintang yang jauh di sana, mungkin aku bisa melupakan matahari di malam hari ini.
Ia menulis kalimat itu di buku tulisnya pagi ini. Bukan di buku pelajaran. Di buku tulis kecil bersampul merah tua, tidak bergaris, yang ia beli kemarin sore di warung dekat rumah. Toko yang sama tempat ibunya membeli beras dan sabun cuci dan terkadang kue kering yang dibungkus plastik. Buku itu sekarang ada di saku tasnya, di kantong dalam yang biasanya kosong. Halaman pertama, tulisan tangan yang masih terlalu bulat untuk isinya. Ia menulis:
Koridor barat. 06:45–07:10. Aman.
Koridor utama. 07:10–07:15. Lewat cepat. Dia belum datang.
Perpustakaan. Jam istirahat pertama. Dekat sofa usang penuh dengan potongan kertas yang terselip, di balik rak ensiklopedia yang tidak pernah dibuka siapa pun.
Gerbang samping. Pulang. Keluar dari arah lapangan, bukan koridor utama.
Ia membacanya kembali di koridor barat yang sepi ini, bersandar ke dinding yang permukaannya dingin dan sedikit lembap. Kondensasi dari semalam yang belum sempat mengering, yang meresap ke kaus bagian punggungnya dengan sabar, satu sel kulit per satu sel kain. Kalimat-kalimat itu terasa seperti instruksi dari orang lain. Seseorang yang lebih tenang, lebih terkendali, seseorang yang bisa mereduksi hidupnya menjadi persamaan matematis. Fisikawan di dalam dirinya, yang selama dua puluh tahun ke depan akan menjadi satu-satunya bahasa yang cukup presisi untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan tanpa harus benar-benar merasakannya.
Koridor barat tidak punya udaranya sendiri. Ia hanya meminjam, dari lapangan, dari lorong belakang, dari segala arah yang bukan arah yang ia hindari. Dan dalam udara itu, tersisip sesuatu yang tidak bisa ia tunjuk sumbernya. Ia menutup buku dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Ada gerakan di dalam dirinya yang menyerupai menahan napas, semacam kontraksi, seperti tubuh yang belajar menolak alergen. Dan ia tahu, dengan cara yang sama ia tahu Pak Henry akan kehilangan tiga tugas hari Kamis, bahwa sesuatu itu bukan berasal dari koridor ini.
Sesuatu itu ada di kepalanya. Tersimpan di sudut yang ia tidak minta untuk diisi, dan sekarang menyebar seperti parfum yang tertumpah di ruangan kecil berbentuk lingkaran, menyisip di antara pikiran-pikiran lain yang berusaha keras untuk tidak memedulikannya.
Inilah masalahnya, yang belum ia pahami di pagi ketiga ini tapi akan ia pahami di bulan-bulan yang akan datang: kau bisa memejamkan mata. Kau bisa menutup telinga. Tapi kau tidak bisa berhenti bernapas. Dan setiap napas adalah undangan bagi dunia untuk masuk, membawa apa pun yang ia bawa, masuk dan tersebar di dalam tubuh, menyentuh semua bagian dalam tubuhmu. Tenggorokan. Paru-paru. Jantung. Hati. Membawa sisa-sisa dari orang yang sedang kau hindari.
Jam istirahat pertama. Perpustakaan.
Ruangan ini berbau kertas tua dan plastik sampul yang menguning. Juga sedikit kapur barus dari lemari kayu tempat penjaga perpustakaan menyimpan buku-buku yang terlalu rusak untuk dipajang tapi terlalu berharga untuk dibuang. Ibu Tari, penjaga perpustakaan, duduk di mejanya dengan koran yang sudah terlipat ke halaman berita duka, dan secangkir teh hitam yang sudah dingin. Bau tehnya tipis, hampir tidak ada, tertutup bau lembaran kertas yang lebih tua dan lebih keras dari segala sesuatu yang bernyawa di ruangan ini.
Elian duduk di sudut kiri belakang, persis seperti yang ia tulis. Di balik rak ensiklopedia yang tidak pernah dibuka siapa pun sejak tahun dua ribu enam, dilihat dari debu yang mengendap di punggung buku seperti salju tipis di atap rumah-rumah yang melewati musim hanya ditemani kicauan burung dan kelelawar. Dari sini ia bisa melihat pintu masuk tapi tidak bisa dilihat dari pintu masuk. Geometri sederhana. Garis pandang yang terputus oleh rak dan sudut dan bayangan. Ia belajar ini bukan di kelas fisika. Ia belajar ini dari bertahun-tahun menjadi orang yang lebih suka melihat daripada dilihat.
Ia membuka buku merah. Halaman kedua sekarang.
Perpustakaan. 09:15. Efektif. Tidak ada jalur alasannya melewati sini di jam ini.
Catatan: cari tahu jadwal ekstrakulikulernya. Jangan sampai ada tumpang tindih.
Ia berhenti menulis. Menatap kalimat terakhir itu. Di bawah huruf-huruf yang bulat dan goyah, ia bisa merasakan sesuatu yang lebih tua, lebih berat. Kalimat itu bukan kalimat seorang murid yang menghindari teman sekelas. Kalimat itu adalah kalimat seorang peneliti yang merancang eksperimen di mana variabel terkontrolnya adalah kehadiran manusia lain. Seolah gadis itu adalah isotop radioaktif dan ia sedang menghitung jarak aman.
Bau kapur barus dari lemari menyusup ke pikirannya. Ia pernah mencium bau ini sebelumnya, di tempat lain, di umur yang lain. Di lemari pakaian ayahnya yang tidak pernah dibuka lagi setelah pemakaman, yang ibunya simpan utuh selama bertahun-tahun seperti museum kecil untuk satu orang yang tidak akan pernah datang mengunjungi, dan ketika akhirnya ibunya membuka lemari itu, enam tahun kemudian, bau kapur barus keluar seperti napas yang ditahan terlalu lama. Seperti orang yang sudah lama menghilang dan tiba-tiba pulang, hanya melalui aroma.
Ia mengedipkan mata. Kembali. Perpustakaan. Buku merah. Halaman kedua.
Aman, tulisnya lagi. Kata itu sudah dua kali muncul di catatan dan keduanya terasa seperti kebohongan yang ditulis dalam bahasa asing.
Hari-hari berlalu dan sistem itu bekerja.
Bukan bekerja seperti mesin yang berjalan mulus. Bekerja seperti perban yang menutupi luka. Permukaan terlihat rapi. Di bawahnya, segala sesuatu masih berdarah.
Koridor barat menjadi rutinitasnya. Ia menghafalkan setiap bau di lorong itu seperti peta yang digambar bukan dengan mata tapi dengan hidung. Tanah yang masuk ke lantai koridor bersamaan jejak kaki, bentuknya berbeda-beda, dari orang-orang yang memilih koridor barat, masing-masing memiliki alasannya sendiri untuk menghindari koridor utama. Pintu ruang seni yang kayunya membengkak karena kelembapan, mengeluarkan aroma manis kayu yang membusuk perlahan, sabar, menuliskan elegi yang dipahat oleh rayap. Jendela-jendela tinggi yang membiarkan angin masuk membawa campuran knalpot dan daun basah dan kadang-kadang, dari arah kantin, minyak goreng yang sudah terlalu banyak menyerap masa lalu.
Ia tahu jam berapa gadis itu melewati koridor utama. Tujuh lewat dua belas. Tepat. Konsisten seperti konstanta. Ia tahu jam berapa dia pergi ke kantin. Sembilan lewat dua puluh, bersama Nadia, selalu bersama Nadia, dan mereka berjalan dengan irama yang sinkron, seperti dua orang yang sudah lama berbagi langkah. Ia tahu di mana dia duduk saat istirahat kedua. Bangku di bawah pohon kenari dekat lapangan, pohon yang daunnya berbau tajam dan pahit kalau kau remas, bau yang tidak mirip apa pun kecuali dirinya sendiri.
Ia tahu semua ini tanpa pernah hadir di tempat-tempat itu. Gabungan dari ingatan dua puluh tahun yang lalu dan pengamatan dari sudut-sudut yang ia huni seperti hantu yang terlalu sopan untuk menampakkan diri.
Di buku merah, catatan bertambah. Halaman ketiga. Keempat. Kelima.
Senin, 07:14. Dia masuk dari gerbang depan. Jarak dari gerbang samping: 40 meter. Waktu tumpang tindih: 0.
Selasa, 09:22. Kantin. Aku di perpustakaan. Arah berlawanan. Aman.
Rabu, 13:05. Dia di lapangan. Aku di koridor barat. Dua bangunan memisahkan. Garis pandang: tidak ada.
Catatan: bau cabai di koridor utama jam 10 pagi. Bukan dari kantin. Dari arah kelasnya. Dia lewat sini 48 menit yang lalu. Bau bertahan lebih lama dari kehadirannya.
Kalimat terakhir itu ia tulis dan kemudian menatap selama dua menit penuh. Dua menit yang terasa seperti percakapan dengan seseorang yang tidak ia kenal tapi mengenali suaranya. Ia sedang mendokumentasikan jejak penciuman seseorang. Ini bukan catatan penghindaran. Ini adalah arsip. Katalog. Inventaris dari ketidakhadiran seseorang yang diukur melalui sisa-sisa aromanya di udara.
Ia mencoret kalimat terakhir. Seperti yang ia lakukan di buku tulis kelas di hari pertama, menekan pulpen cukup keras hingga kertas hampir robek. Tapi coretannya tidak menghapus. Hanya menutupi. Tinta biru di atas tinta biru, dan kalau kau angkat kertasnya ke cahaya, kau masih bisa membaca apa yang tertulis di bawahnya, samar, seperti tulisan di batu nisan yang sudah dibasuh bertahun-tahun hujan tapi huruf-hurufnya masih menolak hilang sepenuhnya.
Minggu kedua. Sistemnya semakin rumit.
Bukan karena ada yang berubah di jadwal gadis itu. Jadwalnya tetap, konsisten, terukur. Yang berubah adalah cakupan dunia yang harus ia hindari. Bukan hanya gadis itu. Bukan hanya koridor utama dan kantin dan bangku di bawah pohon kenari. Tapi semua tempat yang mungkin pernah dilewatinya, semua lorong yang mungkin membawa sisa jejaknya, semua sudut yang mungkin menyimpan bayangan kehadirannya di udara yang belum sempat berganti.
Ia menghitung. Fisikawan di dalam dirinya menghitung, karena menghitung lebih mudah daripada merasakan. Energi yang dibutuhkan untuk menghindari seseorang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk mendekatinya. Ini termodinamika, bukan metafora. Setiap belokan kiri yang ia ambil adalah belokan kanan yang ditahan. Setiap langkah menjauh membutuhkan gaya yang sama persis dengan langkah mendekat, hanya arahnya yang berlawanan. Dan gaya itu tidak hilang. Gaya itu menumpuk. Hari demi hari, langkah demi langkah, belokan demi belokan.
Ia mulai bisa memilah bau sekolah seperti seorang sommelier yang memilah aroma anggur. Lapisan demi lapisan. Lantai yang baru dipel: karbol dan air keran. Koridor setelah jam istirahat: keringat dan debu dan sisa makanan. Ruang guru: kopi dan kertas dan parfum murah Pak Silas yang terlalu banyak disemprotkan. Perpustakaan: kapur barus dan plastik dan kertas tua dan waktu yang mengendap.
Dan di antara semua itu, di lapisan yang paling sulit dijangkau, sesuatu yang tidak bisa ia sebut namanya. Bukan satu bau. Bukan satu suara. Sebuah harmoni. Seperti petikan dua nada yang seharusnya terdengar sumbing ketika dimainkan bersama. Tapi karena suara sumbing itu, lebih mudah mengusik telinga, bahkan ketika telinga tidak ingin mendengar apapun.
Sabun tertentu. Bukan merek yang eksklusif. Dijual di warung kelontong dekat sekolah dan mungkin dipakai oleh dua puluh orang lain. Tapi entah bagaimana ia bisa membedakan versinya dari versi orang lain, seperti kau bisa membedakan suara biola yang sama dimainkan oleh dua pemain yang berbeda. Dan di bawah itu, deterjen. Bau pakaian yang baru dicuci dengan deterjen tertentu dan dijemur di bawah matahari Jakarta yang panas dan dilipat dengan tangan tertentu.
Ia tahu ia sudah gila. Atau setidaknya, ia tahu bahwa apa yang ia lakukan melampaui batas yang wajar. Tidak ada manusia yang seharusnya bisa mengenali seseorang dari sisa bau deterjen di udara kosong. Tapi ia bukan sepenuhnya manusia biasa, bukan? Ia adalah laki-laki tiga puluh tiga tahun yang terperangkap di tubuh anak-anak yang sedang merancang sistem penghindaran yang semakin menyerupai peta militer untuk perang satu orang yang musuhnya tidak tahu ada peperangan.
Di buku merah, halaman kesembilan:
Perimeter sekolah. Titik masuk: 3. Gerbang depan (zona merah, hindari 07:00–07:20). Gerbang samping (zona hijau, selalu aman). Pintu belakang dekat lapangan (zona kuning, aman kecuali Kamis sore, ekskul basket di lapangan, dia menonton dari tribun).
Koridor aman: barat, tangga belakang, lorong menuju lab yang belum pernah dibuka tahun ini.
Zona bahaya: koridor utama (terutama sebelum dan sesudah bel), kantin (seluruh jam istirahat), area pohon kenari (istirahat kedua), dan, mulai hari ini, tangga timur setelah jam 2 siang (alasan belum diketahui, tapi jejaknya ada di sana kemarin dan hari ini).
Ia menatap kata jejaknya dan merasakan sesuatu yang mirip malu tapi lebih gelap, lebih berat, seperti batu yang dilempar ke kolam yang kau kira dangkal tapi ternyata tidak ada dasarnya. Ia sedang membangun hidupnya di sekitar kolam yang berbentuk seperti gadis itu. Bukan mendekatinya. Bukan menjauhinya. Mendefinisikan setiap ruang berdasarkan kemungkinan kehadiran seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa ia ada.
Dan ini, ia tahu, adalah hal yang paling menyedihkan yang pernah dilakukan seorang fisikawan. Menggunakan seluruh kapasitas analitisnya bukan untuk memahami alam semesta, tapi untuk menghindari satu orang di dalamnya.
Hari Jumat, minggu ketiga.
Hujan turun sejak subuh dan belum berhenti. Jakarta dalam hujan berbau seperti kota yang telanjang, semua bau yang tersimpan di atas awan, bercampur dengan bau yang teraduk di tanah. Semua yang biasanya tertutup oleh panas dan debu dan kesibukan, terangkat ke permukaan oleh air. Got yang tersumbat mengeluarkan bau yang jujur. Tanah yang biasanya keras dan kering menjadi lembek dan melepaskan aroma besi dan akar, seperti kota ini punya lapisan bawah yang hidup dan bernapas dan hujan adalah satu-satunya yang membuatnya bicara.
Elian berdiri di bawah kanopi koridor barat, menunggu hujan mereda cukup untuk ia berlari ke gerbang samping. Tas dipeluk di depan dada. Sepatu sudah basah. Semua orang sudah pulang lewat gerbang depan, berhamburan ke angkot dan ojek dan naungan payung yang tidak cukup besar, dan sekolah sepi seperti rumah yang ditinggal penghuninya pergi mudik.
Ia mencium sesuatu.
Bukan hujan. Bukan got. Bukan tanah yang basah atau daun yang membusuk atau asap dari warung di seberang jalan yang tetap buka karena hujan berarti pelanggan butuh sesuatu yang hangat. Sesuatu yang lain. Terselip di dalam hujan, tersembunyi di antara tetes-tetesnya seperti pesan yang dikirim dalam bahasa yang hanya bisa dibaca oleh satu orang.
Bunga. Kamboja.
Pohon kamboja di dekat gerbang depan. Yang bunganya berjatuhan setiap kali angin kencang dan anak-anak menginjaknya tanpa melihat dan kelopaknya yang putih dan kuning menempel di sol sepatu dan terbawa ke mana-mana seperti penumpang gelap. Hujan pasti menggugurkan bunganya lebih banyak dari biasanya, dan angin membawa aromanya ke sini, ke koridor barat yang seharusnya di luar jangkauan pohon itu, ke tempat yang seharusnya bersih dari semua bau yang terkait dengan sisi sekolah yang bukan miliknya.
Tapi bau kamboja itu membawa sesuatu yang lain. Bukan memori. Bukan gambar. Sensasi. Di suatu tempat yang tidak bisa ia tunjuk, sesuatu bereaksi terhadap aroma itu seperti zat kimia yang bertemu katalisnya. Kamboja dan sesuatu yang ia tidak bisa sebut namanya. Sesuatu yang lebih tua dari tiga belas tahun. Lebih tua dari tiga puluh tiga tahun. Sesuatu yang terasa seperti berdiri di tempat yang sama untuk waktu yang sangat, sangat lama, dan bau kamboja adalah satu-satunya yang tidak berubah sementara segalanya di sekelilingnya bergeser dan berganti dan menua dan mati.
Sedetik. Mungkin kurang. Lalu hilang. Seperti kelopak bunga yang terbawa angin melewati jendela terbuka. Kau menciumnya. Kau menoleh. Sudah tidak ada.
Ia berdiri di koridor barat, basah, tiga belas tahun, dan untuk sepersekian detik ia merasa seperti orang yang sudah terlalu sering berdiri di hujan yang sama. Bukan hujan ini. Hujan secara umum. Hujan sebagai konsep. Seolah setiap hujan yang pernah turun di kota ini pernah membasahi kepalanya dan ia hanya ingat yang terakhir tapi tubuhnya menyimpan semuanya, tetes demi tetes, di tulang dan otot dan di tempat yang lebih dalam dari keduanya.
Ia membuka buku merah. Tangan sedikit basah. Tinta sedikit luntur di halaman yang sudah tertulis sebelumnya, huruf-huruf yang melebur ke kertas seperti kenangan yang melebur ke dalam kenangan lain sampai kau tidak bisa lagi memisahkan mana yang asli.
Ia menulis:
Ada sesuatu yang salah dengan aku, atau ada sesuatu yang salah dengan dunia ini.
Hujan mereda. Ia berlari ke gerbang samping. Sepatunya mengecap genangan dan setiap genangan berbau seperti kota yang sedang menelan dirinya sendiri dan memuntahkannya kembali dan ia berlari melalui semua itu dengan buku merah di dalam tas yang dipeluk di depan dada dan di saku dalam buku itu ada peta penghindaran yang semakin menyerupai peta dari orang yang tersesat, bukan orang yang tahu jalan.
Di angkot, hujan yang sudah mereda meninggalkan bekas di kaca jendela. Bekas perjalanan air yang sudah selesai, mengering. Jakarta di luar terlihat seperti kota yang baru saja disapu langit: permukaan yang sama, tapi lapisan kotornya terangkat, warnanya lebih pekat, konturnya lebih tajam dari biasanya. Genangan di jalan memantulkan neon warung dan plang toko dan langit yang sudah mulai malu, tersipu merah.
Ia memikirkan gadis itu.
Ini yang tidak ia tulis di buku merah. Bahwa setiap belokan kiri, setiap koridor barat, setiap jam yang dihabiskan di sudut perpustakaan di balik rak ensiklopedia, semuanya tetap tentang gadis itu. Bahwa penghindaran adalah bentuk lain dari obsesi. Bahwa energi yang ia habiskan untuk tidak melihatnya adalah bukti bahwa ia tidak pernah berhenti melihatnya, hanya saja sekarang yang ia lihat adalah ruang-ruang kosong yang seharusnya diisi oleh kehadirannya.
Ia membangun hidupnya di sekitar ketidakhadirannya, dan bentuk ketidakhadiran itu persis menyerupai bentuk kehadirannya, seperti cetakan yang ditinggalkan benda yang sudah pergi. Sebuah siluet yang tertinggal, ketika matamu terlalu lamat melihat cahaya. Kau bisa mengenali benda dari bayangannya. Kau bisa mengenali seseorang dari lubang yang ditinggalkannya di hari-harimu.
Bau yang bertahan lebih lama dari kehadirannya.
Kalimat yang ia coret di buku merah. Kalimat yang menolak pergi.
Di rumah, ibunya sudah memasak. Elian masuk dari pintu depan dan menaruh tas yang basah di kursi, dan ibunya muncul dari dapur dengan lap di tangan.
“Sepatumu,” kata ibunya.
Ia menatap sepatunya. Basah sampai ke dalam. Ia melepaskannya di teras dan masuk dengan kaus kaki yang dingin menyentuh ubin—dinginnya terasa lebih nyata dari apa pun yang telah ia rasakan sepanjang hari, sesuatu yang konkret dan kecil dan tidak membutuhkan penjelasan.
Di meja sudah ada nasi dan sayur asem. Ia duduk. Makan dalam diam.
Sayurnya berbau asam jawa dan jagung muda dan daun melinjo dan tangan ibunya, yang bukan bau yang bisa kau definisikan secara kimia tapi hadir di setiap masakan yang pernah wanita itu buat, seperti goresan tinta yang ditulis dengan air lemon. Setiap suapan membawa dua rasa sekaligus. Rasa makanan dan rasa rumah, yang bukan hal yang sama tapi tidak bisa dipisahkan, seperti dua lautan yang berbagi garis pantai yang sama.
Malam. Kamarnya. Langit-langit yang sama. Kipas yang sama.
Ia berbaring dan menghitung. Berapa banyak belokan yang ia ambil hari ini. Berapa banyak langkah ekstra. Berapa banyak energi yang dihabiskan untuk tidak berada di tempat-tempat tertentu. Jumlahnya abstrak tapi bebannya kongkrit, terasa pusing di kaki dan pegal di pikiran.
Dari ruang sebelah, ibunya selalu saja berdoa. Suara yang hafal di luar kepala tapi terasa baru setiap kali diucapkan, seperti kata-kata yang artinya bergeser dengan usia pemakainya.
Ia menutup mata.
Dan di balik kelopak matanya, di tempat gelap di mana tidak ada koridor barat dan tidak ada zona aman dan tidak ada buku merah dengan peta penghindaran yang semakin menebal, ia mencium sesuatu. Bukan kamboja. Bukan kapur barus. Bukan karbol atau deterjen atau minyak goreng. Sesuatu yang tidak punya nama. Sesuatu yang ia yakin tidak ada di kamar ini, tidak ada di rumah ini, mungkin tidak ada di kehidupan ini. Tapi ada. Hadir. Seperti bau rumah yang kau cium hanya setelah kau pergi terlalu lama dan kembali. Bau yang hanya bisa kau kenali setelah bau itu pergi untuk terlalu lama.
Ironis, ketika matanya terbuka, dia bisa melihat ruang-ruang kosong di mana tidak ada gadis itu. Tertutup rak. Tertutup koridor. Tertutup lautan murid-murid yang tidak bisa dibedakan karena seragam mereka sama semua.
Tapi ketika matanya tertutup, tidak ada lagi pelindung yang menutupi gadis itu dari pandangannya. Tidak ada rak. Tidak ada koridor. Tidak ada lautan murid. Kelopak matanya penuh dengan gadis itu.
Dan ia bertanya-tanya, untuk pertama kalinya, apakah yang ia hindari bukan gadis itu, tapi sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang tercium di setiap napasnya seperti oksigen yang sudah tercampur dengan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau tapi mengubah segalanya. Sesuatu yang sudah ada sebelum ia bangun di kelas itu tiga minggu lalu. Sesuatu yang mungkin sudah ada sebelum ia lahir.
Ia tidak punya nama untuk itu. Belum.
Di buku merah, di bawah bantal, halaman terakhir yang terisi, tulisan tangan yang semakin menekan terlalu keras:
Sistem berjalan. Tidak ada kontak. Tidak ada tumpang tindih. Semua zona aman.
Dan di bawahnya, ditulis lebih pelan, dengan tekanan yang berbeda, seolah tangan yang menulis sudah bukan tangan yang sama:
Tapi aku masih bisa menciumnya di mana-mana.
Dan di bawah itu, ditambahkan kemudian, dengan tinta yang lebih gelap karena pulpen ditekan terlalu kuat ke kertas yang sudah lelah:
Catatan: Kamis depan, jadwal piket kelas berubah. Dia tidak seharusnya piket hari Kamis. Dulu Senin. Periksa ulang semua zona.
Continue Reading